Ku jelajahi alam Sunyaruri
bersama sukma yang sepi
berjibaku jiwa yang sunyi
mata mengendap-endap tajam
melucuti bekas-bekas kelam
jasad terpotong dalam dua sisi
nurani dan naluri
mengepak sayap-sayap waktu
meruangi-meraungi sesak hembusan nafas rindu
surga mempertontokan dirinya
penuh kemelut
akankah kita kelak masih berebut disana?
menyembah kesenangan yang kalut
neraka menyibakkan heningnya
tak ada siksa
masihkah kita takut menuju kesana?
meneror Tuhan dengan peluh doa-doa
kematian adalah serangaian anak-anak takdir
ada dan tiada hanyalah awal
dari keberulangan tanpa akhir
tiada dan ada menggembala sial
irama kehidupan yang tertunda
kita mati disini? hidup kembali
kita hidup disana? mati niscaya
cinta mengebiri ketakutan
dunia bertelanjang budaya
agama mengkudeta Asmaragama
murtad menampung kenikmatan
sepasang Merpati mengoceh di lembah-lembah hijau!
“Seisi jagat raya, dinasibkan untuk merayu manusia”
“Seluruh semesta, dikutuk tunduk dikedua kaki manusia”
“Kita? sepasang mata yang buta, sepasang telinga yang tuli, sebatang kara bibir yang bisu dan seonggok mayat yang lugu”
Hening! jika Tuhan ada dimana-mana
lantas kenapa kami harus bersusah payah mendirikan rumah untuk-Nya?
Senyap! jika Tuhan berwajah
lalu kenapa kami wajib membayangkannya dengan gundah?
lengang! jika Tuhan telah menurunkan kitab suci
apatah guna ketanzilan puisi?
Rumah, 29 Januari 2019. (Bersambung),
***
Keranda jenazah tertata sempurna
memikul jasad-jasad hidup
tak meninggal atau tak terputus nyawa
keranda itu adalah doa-doa
yang sering dikebiri dosa-dosa
rodanya ialah agama
jalan hidup manusia
mayat-mayat beterbangan
bocah ingusan bertanya
“Nyonya, apakah manusia bisa abadi?”
ku jawab “Manusia akan abadi jika menulis puisi”
ia membeli kertas
lantas pergi menuju kuburan
mencari ilham sunyi
memungut wahyu sepi
dan apa yang ia tumpahkan kedalam kata-kata
coretan nisan bertuliskan namanya
tanggal lahir dan kematiannya
lalu pelan-pelan bersiul
menolak adanya ajal yang mandul
Warung Mak MLG, 20 Jan 2019. (Bersambung),
***
Kami mengistirahatkan diri
direlung pengap makam-makam cinta
kami sedang kasmaran terhadap maut
mengedus-endus aroma ajal
hati kami jatuh kedekapan lengan-lengan kematian
sebab luka tak kunjung terjahit sempurna
korban-korban zaman tindih menindih tertumpuk
saling berjibaku menghunuskan pusaka
mata rantai penguasa silih berganti
tetapi perubahan tak kunjung terjadi
bunuhlah kami! dengan tusukan puisi
bunuhlah kami! dengan tikaman sajak
bunuhlah kami! dengan melibaskan syair
tanah air telah kosong dari darah penjajah
dan jadilah pertangkaran terjadi antar saudara sedarah
tuding menuding karena iman
tuduh menuduh karena golongan
malaikat diatas sana tertawa terbahak-bahak
mengamati dadu-dadu yang terlempar
kita memperdebatkan simbol
kita mempidana identitas
kita memfatwa visual semata
kemana laju arah bangsa kita? kecuali menuju punah dan sirna
Tuhan membenci pengorbanan, pengkultusan dan pemberhalaan
entah benda, manusia atau agama
sekarang yang terjadi?
kami wafat karena tersendat ucapa kami sendiri
MAK NU, 4 Jan 2019.
(Tamat)
Oleh: Sabillah
